PENGARUH
LEADER MEMBER EXCHANGE (LMX) DANKEPERCAYAAN
TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI GURU SMA NEGERI
DI
KOTA BIMA NTB
2015
Nurul Khasyiah *
Abstract:
The objective research is to obtain information concerning to the effect of
trust and decision making toward teacher’s organizational commitment. The
research was conducted by using survey method with path analysis in testing
hypothesis. In this research, 186 from 347 teacher’s selected random sampling.
The research was focused on tree aspect; LMX and trust toward teacher’s
organizational commitment. The data were colected with questionnaire and analyzed with path
analysis. Result on the analyisis it is concluded that (1) there the positive direct effect of LMX towards
organizational commitment, (2) there is
positive direct effect of trust towards organizational commitment and
(3) ) there is positive direct effect of
LMX towards trust.
Key Words: organizational commitment, LMX, and trust
PENDAHULUAN
Masalah rendahnya komitmen guru, yang dimana sebagian
besar adalah pegawai negeri sipil menimbulkan polemik internal pada sebuah
tatanan sistem pendidikan di Indonesia.
Mengenai komitmen guru sebagai pendidik, Kathryn Robinson, yang bekerja pada Departement
of Antropology Research School of Pacific and Asian Studies ANU College of Asia
and the Pacific, saat
meninjau masjid tua peninggalan Sultan Salahuddin Bima di Kota Bima NTB,
menilai banyak guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia tidak
bersyukur, sering bolos dan melalaikan tugasnya sebagai pendidik. Mereka
seenaknya meninggalkan kewajiban, menciptakan kebodohan siswanya, menikmati
gaji buta, tidak malu pada diri sendiri, orang tua siswa, dan pemerintah.
Kathryn
mengaku sempat memantau beberapa sekolah di Kota dan Kabupaten Bima, juga
beberapa SD hingga SMA pada beberapa daerah di Indonesia, banyak menjumpai guru
yang meninggalkan tugasnya. Namun, yang mengherankan Kepala Sekolah tidak
memecatnya. Padahal, mereka terikat kontrak kerja dengan waktu yang telah
ditentukan. Seharusnya kalau tidak masuk tanpa alasan yang jelas harus
menindaknya..
Fenomena
tersebut menarik untuk dikaji secara mendalam dan komprehensif melalui
penelitian ilmiah guna mengungkap pengaruh Leader
Member Exchange dan kepercayaan terhadap komitmen organisasi.
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah LMX berpengaruh
langsung terhadap komitmen
organisasi? 2) Apakah kepercayaan
berpengaruh langsung terhadap komitmen
organisasi?, 3) Apakah LMX
berpengaruh langsung terhadap kepercayaan?.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Pengaruh langsung positif LMX terhadap Komitmen
organisasi guru Sekolah Menengah Atas Negeri
(SMAN) di kota Bima, NTB, 2) Pengaruh langsung positif kepercayaan
terhadap Komitmen organisasi guru Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di kota Bima, NTB, 3) Pengaruh langsung positif LMX
terhadap kepercayaan guru Sekolah
Menengah Atas Negeri
(SMAN) di kota Bima, NTB.
Komitmen organisasi
Komitmen organisasi pada hakikatnya adalah perilaku individu
terhadap pekerjaan mereka. Menurut Greenberg (2010:153), “organizational commitment is people’s attitudes toward the
organizations in which they work”. Komitmen organisasi adalah sikap
individu terhadap organisasi di mana mereka bekerja.
Senada dengan Greenberg, Colquitt et al. (2009:66), menyatakan bahwa, “organizational
commitment is defined as the desire on the part of an employee to remain a
member of the organization”. Komitmen organisasi yang dimaksud adalah
keinginan dari seorang pegawai untuk tetap menjadi bagian dari organisasi.
Slocum dan Hellriegel (2008:91) menyatakan,
“commitment organization is the strenght
of an employee’s involment in the organization and identification with it”.
Komitmen organisasi mengacu pada keinginan kuat seseorang pegawai dalam
organisasi dan identitas dengan hal tersebut. Lebih lanjut Slocum menjelaskan
pegawai yang bertahan pada pekerjaannya dalam jangka waktu yang lama lebih
berkomitmen terhadap organisasi daripada pegawai yang bertahan dalam waktu
singkat.
Selanjutnya mengacu kepada keikutsertaan
dan loyalitas. Gibson (2009:182) menyatakan bahwa, “Commitment to an organization involves three attitudes; (1) a sense of identification with the
organization’s goals, (2) a feeling of
involvement in organizational duties, and (3) a feeling of loyalty for the organization”. Pendapat ini
berarti bahwa komitmen terhadap suatu organisasi melibatkan 3 (tiga) sikap,
penerimaan pegawai atas nilai-nilai (identification),
perasaan keterlibatan (involvement)
dalam tugas organisasi dan perasaan dari loyalitas (loyalty) terhadap organisasi.
Senada dengan Gibson, Schermerhorn (2005:335)
mengemukakan bahwa, “organizational
commitment is the loyalty of an individual to the organization”. Komitmen
organisasi adalah loyalitas pegawai terhadap organisasi. Individu dengan
komitmen organisasi yang tinggi akan mengidentifikasi kuat keanggotaan mereka
dalam organisasi dan bangga menjadi bagian dari anggota organisasi.
Daft (2010:445) mengemukakan, “organizational commitment refers to an
employee’s loyalty to and engagement with the organization”.Komitmen
organisasi ini mengacu pada loyalitas pegawai dan keterlibatannya dengan
organisasi. Pegawai yang loyal biasanya memandang organisasi sebagai tempat
yang menyenangkan dan berusaha berkontribusi untuk mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan kajian sejumlah konsep di atas,
dapat disintesiskan komitmen organisasi adalah keinginan kuat seseorang
terhadap organisasinya dan berusaha berkontribusi untuk mencapai tujuan
organisasi yang ditandai dengan indikator (1) loyalitas (2) terlibat dalam
perilaku interpersonal, (3) bekerja sungguh-sungguh demi kepentingan
organisasi, (4) kepatuhan pada peraturan organisasi, dan (5) tidak meninggalkan
organisasi.
LMX
Menurut Luthans (2011:422) dasar pemikiran dari teori LMX adalah bahwa para pemimpin
mengembangkan hubungan atasan-bawahan yang berbeda dengan masing-masing
bawahannya seperti pernyataannya, “LMX
theory says that leaders treat individual followers differently. In particular,
leaders and their associates develop dyadic (two-person) relationships that
affect the behavior of both. For example, associates who are committed and who
expend a lot of effort for the unit are rewarded with more of the leader’s
positional resources (for example, information, confidence, and concern) than
those who do not display these behaviors”.
Model hubungan atasan dan bawahan LMX menekankan pentingnya hubungan variatif antara atasan dengan
masing – masing bawahanya. Tiap pasangan atasan dan bawahan dinamakan dengan “vertical dyad.” Istilah vertical
dyad menunjuk kepada hubungan antara seorang pemimpin dan seorang bawahan
saja. Dasar pemikiran teori vertical dyad
adalah bahwa para pemimpin biasanya menetapkan sebuah hubungan yang istimewa
dengan sejumlah bawahan yang dipercayai kelompok in-group yang berfungsi sebagai, misalnya asisten. Hubungan
pertukaran yang dibangun dengan para bawahan yang selebihnya kelompok out-group secara berbeda.
Menurut Yukl (2010:122) LMX
didefinisikan, “Leader
Member Exchange (LMX) theory describes the role-making processes between a
leader and each individual subordinate and the exchange relationship that
develops over time.LMX theory was formerly called the vertical dyad linkage
theory because of its focus on reciprocal influence processes within vertical
dyads composed of one person who has direct authority over another person”. Teori LMX menjelaskan proses
pembuatan peran-antara pemimpin dan setiap individu bawahan dan hubungan
pertukaran yang berkembang dari waktu ke waktu. Teori LMX sebelumnya disebut teori hubungan vertikal angka dua karena
fokus pada proses pengaruh timbal balik dalam diad vertikal terdiri dari satu
orang yang memiliki kewenangan langsung atas orang lain.
Schriesheim dan Castro dalam buku Yukl (2010:122) berpendapat bahwa, “LMX is defined to include other aspects of
the relationship (e.g.,negotiating latitude, incremental influence, shared
values), or individual attributes of the leader and subordinat”. LMX mencakup
aspek-aspek lain dalamsuatu hubungan (misalnya, negosiasi, pengaruh tambahan,
nilai-nilai bersama), atau atribut individu pemimpin dan bawahan.
Mengenai LMX Gibson (2009:336) memberikan gambaran sebagai berikut, “the LMX
explanation suggests that in-group members are likely to receive more
challenging assignments and more meaningful rewards. Research indicates that
in-group members are more positive about the organization culture and higher
job performance and satisfaction than employees in the out-group. An out-group
member isn’t considered to be the type of person the leader prefers to work
with, and this attitude is likely to become a self-fulfilled prophecy.
Out-group members receive less challenging assignments, receive little positive
reinforcement, become bored with the job, and often quit. They experience a
lower quality relationship with their leader”. LMX menunjukkan bahwa
anggota kelompok dalam cenderung menerima tugas yang lebih menantang dan lebih
bermakna. Penelitian menunjukkan bahwa anggota kelompok dalam lebih positif mengenai budaya organisasi dan
prestasi kerja yang tinggi dan kepuasan daripada pegawai yang termasuk dalam
anggota kelompok luar. Anggota kelompok luar tidak dianggap sebagai tipe orang
yang disukai pemimpin. Anggota kelompok luar menerima tugas kurang menantang,
menerima sedikit penguatan positif, menjadi bosan dengan pekerjaan, dan sering berhenti.
Mereka mengalami hubungan yang berkualitas rendah dengan pemimpin mereka.
Menurut Liden dan Maslyn dalam buku Steve M. Jex (2002:295) untuk
mengukur Leader Member Exchange
terdiri dari empat dimensi, yaitu, “to measure the exchange relationship, recently developed a scale
that consisted of four distinct dimensions: (1) Affect, which represents the
levels of mutual interpersonal attraction between a leader and subordinate; (2)
Loyalty, which represents the amount of public support provided by each member
of the leader–subordinate dyad; (3) Contribution, which represents what each
member of the leader–subordinate dyad contributes positively to the goals of
the organization; and (4) Professional respect, which represents the degree to
which each member of the leader–subordinate dyad has built a reputation, within
and/or outside of work, because he or she excels in his or her line of work.
Previous LMX scales have treated it as a one-dimensional construct”.
Messick (2005:68) juga berpendapat bahwa,”leader-member exchange theory argues that effective leaders need to
develophigh-quality personalized relationships with followers relationships
that recognize followers individual qualities and contributions to the group”.
Teori Leader Member Exchange berpendapat bahwa pemimpin yang efektif perlu mengembangkan
kualitas hubungan pribadi yang tinggi dengan bawahan dan berkonstribusi dalam
kelompok.
Berdasarkan konsep – konsep di atas, dapat
disintesiskanLMX adalah hubungan
variasi dua arah antara atasan dan bawahan yang bertujuan untuk memajukan
organisasi dengan indikator: (1) Memiliki peran pada tugas yang diberikan
(kontribusi); (2) kesetiaan; (3) keinginan untuk saling mendukung (afeksi); (4)
respek terhadap profesi.
Kepercayaan
Konsep mengenai kepercayaan muncul dalam
pendapat yang beragam dari berbagai ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Stephan
P. Robbins (2006:462) mengatakan bahwa ”Kepercayaan adalah pengharapan
positif bahwa orang lain tidak akan bertindak secara oportunistik melalui
kata-kata, tindakan, atau keputusan”. Pengharapan positif dalam definisi ini
diasumsikian sebagaipengetahuan dan keakraban dengan pihak lain, sedangkan
istilah secara oportunistik merujuk pada resiko dan kerentanannya inheren dalam setiap hubungan
kepercayaan.
Selanjutnya Colquitt et al., (2009:219) mengatakan bahwa “trust is definited as the willingness to be vulnerable to an authority
based on positive expectation about the authority’s action and intentions”.
Kepercayaan didefinisikan sebagai kemauan untuk menjadi rentan terhadap pihak
yang berwenang (authority) yang
didasarkan pada pengharapan yang positif tentang tindakan dan niat dari yang
berwenang tersebut.
Lebih lanjut Robbins and Coulter (2007:400) mengatakan
bahwa, “trust is defined as the belief in
the integrity, character, and ability of a leader”. Kepercayaan
didefinisikan sebagai keyakinan terhadap integritas, karakter, dan kemampuan
seorang pemimpin. Pengikut yang percaya kepada pemimpin akan bersedia menjadi
rentan kepada tindakan-tindakan pemimpin karena mereka benar-benar merasa
nyaman dan tidak akan menyalah gunakan kepentingan.
Kepercayaan erat kaitannya dengan konsep
kredibilitas. Pengikut yang percaya kepada pemimpin bersedia untuk menjadi
rentan terhadap tindakan pemimpin karena mereka yakin bahwa hak-hak dan
kepentingan mereka tidak akan disalahgunakan. Hal ini senada dengan pendapat
Suzanne et al., bahwa “trust is a multifaceted concept that
captures one’s faith or belief in the (2009:33) integrty or reability of another person or thing”. Kepercayaan
adalah konsep multifaset yang mencakup iman dan kepercayaan seseorang pada
integritas atau keandalan dari orang lain atau benda.
Selanjutnya Dundon dan Rollinson (2011:17) mengatakan
bahwa, “ trust is the essential lubricant
of all ongoing relationship and this is as true in the employment relationship
as elsewhere”. Kepercayaan adalah hal penting dari semua hubungan yang
sedang berlangsung dan hal tersebut berlaku sama seperti di tempat lain.
Berbeda dengan Dundon dan Rollinson, Kreitner
dan Kinicki (2010:318) mengatakan bahwa,
“trust is reciprocal faith in others intention and behavior”. Kepercayaan
adalah iman timbal balik pada perilaku dan niat orang lain.
Robbins and Coulter (2007:400) mengatakan
bahwa, research has identified five
dimensions that make up the concept of trust, they are: (1)integrity, (2)
competence, (3) consistency, (4) loyalty, (5) openness”. Hasil penelitian
telah mengidentifikasikan 5 (lima) dimensi yang membentuk konsep kepercayaan,
yaitu: (1) integritas, (2) kompetensi, (3) ketetapan (4) kesetiaan, (5)
keterbukaan.
Dari beberapa deskripsi konsep di atas, dapat
disintesiskan kepercayaan adalah kesediaan individu menerima tindakan otoritas
yang dapat membawa perubahan positif di masa yang akan datang dengan indikator
(1) keyakinan terhadap integritas, (2) pengharapan
positif, (3) kemauan untuk rentan pada perintah dan (4) keterbukaan.
METODE
Penelitian
ini dilaksanakan kepada guru
Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di
Kota Bima, NTB.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan,
mulai bulan Mei 2015 s.d Juli 2015. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah survey
dengan menggunakan teknik kausal. Populasi adalah guru Sekolah
Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Bima, NTB yang berjumlah 347 guru dengan
jumlah sampel sebanyak 186 guru. Data
yang dikumpulkan dalam penelitian dijaring melalui kuesioner yang berupa skala
penilaian (rating scale) dengan
sebaran skor antara 1 sampai dengan 5.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Pengaruh LMX terhadap Komitmen
organisasi
Hasil
penelitan ini menunjukkan
bahwa LMX memberikan pengaruh langsung
positif terhadap komitmen
organisasi. Besarnya pengaruh tersebut ditunjukkan oleh koefisien korelasi
0,596 dan koefisien jalur 0,459. Hal ini menujukkan bahwa LMX dapat meningkatkan komitmen
organisasi guru.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
pendapat Miner (2005:270) yang menyatakan, “LMXcan operate to exert a strong
positive influence on goal commitment. This influence occurs for high-LMX
people, but it disappers completely when LMX occurs, which is non-existent with
low LMX”. LMX dapat
memberikan pengaruh positif yang kuat pada komitmen yang sudah menjadi tujuan.
Pengaruh ini terjadi bagi orang-orang yang memiliki kualitas LMX yang tinggi, namun menghilang
sepenuhnya ketika terjadi sesuatu yang
kaitannya dengan LMX, yang
menyebabkan rendahnya kualitas LMX.
Pendapat ini menunjukkan bahwa kualitas hubungan kepala sekolah dan guru akan
memberikan pengaruh positif terhadap komitmen organisasi guru, dan komitmen ini
akan berkurang bahkan menghilang apabila terjadi sesuatu yang menyebabkan
rendahnya kualitas hubungan tersebut.
Hal
senada juga diungkapkan oleh Yukl (2010:238) bahwa, “LMX was usually correlated with more role clarity, higher
satisfaction, stronger organizational commitment”. LMX memiliki keterkaitan
dengan peran yang besar, kepuasan yang lebih tinggi dan komitmen organisasi
yang lebih kuat. LMX memiliki keterkaitan dengan peran yang besar yang
diberikan kepada guru, kepuasan kerja guru yang tinggi, dan juga komitmen
organisasi guru.
Chirstopher
F. Achua (2013:230) memberikan konfirmasi bahwa, “high-quality LMX are associated with positive follower outcomes such
as perfomance, satisfaction, commitment, and organiszational citizenship
behavior”.
Kualitas LMX yang tinggi terlihat pada hubungan positif pengikut yang
menghasilkan kinerja, kepuasan, komitmen serta perilaku individu yang memiliki
kemauan untuk bekerja dalam sebuah organisasi. Dalam organisasi sekolah LMX
yang tinggi terlihat pada hubungan antara kepala sekolah dengan guru yang akan
berdampak pada kinerja guru, kepuasan guru, komitmen serta perilaku guru yang
memiliki kemauan untuk bekerja untuk sekolah.
Pengaruh Kepercayaan terhadap Komitmen
organisasi
Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa kepercayaan memberikan pengaruh langsung positif terhadap komitmen organisasi. Besarnya pengaruh tersebut ditunjukkan oleh koefisien korelasi 0,506
dan koefisien jalur 0,287. Hasil
penelitian ini sejalan dengan pendapat Mullins (2007:902) “organizational
commitment as typically conceived of as an individual’s psycological bond to
organization, including a sense of job involvement, loyalty, and a belief in
the values of organization’s.” Komitmen organisasi seperti biasanya
dipahami sebagai ikatan psikologis individu terhadap organisasi, termasuk rasa
keterlibatan kerja, loyalitas, dan kepercayaan pada nilai nilai organisasi.
Guru yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi memiliki ikatan psikologis
terhadap sekolah, rasa keterlibatan, loyalitas, dan kepercayaan pada nilai
sekolah.
Colquittet al., (2009:240) juga berpendapat
bahwa “ kepercayaan memiliki efek positif yang kuat pada komitmen. pegawai yang
bersedia untuk menjadi rentan terhadap pihak berwenang cenderung memiliki
tingkat komitmen afektif dan tingkat komitmen normatif yang lebih tinggi.
Kepercayaan tidak memiliki efek terhadap komitmen berkelanjutan”. Kepercayaan
guru kepada kepala sekolah atau sekolah akan berdampak pada komitmen terutama
komitmen afektif dan normatif namun demikian tidak akan berdampak pada komitmen
berkelanjutan.
Selanjutnya
George (2010:235) mengemukakan bahwa, “Trust
is also built on organization members following through on their commitments to
each other”. Kepercayaan juga membangun keanggotaan organisasi melalui
komitmen masing-masing anggota organisasinya. Kepercayaan guru juga akan
membangun rasa kebersamaan diantara guru.
Pengaruh LMX terhadap Kepercayaan
Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa LMX memberikan
pengaruh positif secara langsung terhadap kepercayaan. Besarnya pengaruh
tersebut ditunjukkan oleh koefisien korelasi 0,476 dan koefisien jalur 0,476. Hasil penelitian ini sejalan dengan
pendapat Gibson (2009:324) menjelaskan, “LMX factor refers to the degree of
confidence, trust, and respect that followers have in the leader. This
situasional variable reflects acceptance
of the leader. The leader’s influence depends in part on acceptance by
followers”. LMX menunjukkan bahwa
terdapat beberapa faktor yang mengacu pada tingkat kepercayaan, dan rasa hormat
yang dimiliki oleh pengikut dan pemimpin. Variabel situasional ini mencerminkan
penerimaan pemimpin. Pengaruh pemimpin sebagian tergantung pada penerimaan oleh
pengikut. Hubungan yang harmonis antara kepala sekolah dengan guru akan
membangun pula kepercayaan dan rasa hormat guru kepada kepala sekolah.
Selanjutnya
Schermerhorn, et al., (2005:313) mengemukakan bahwa,“Some relationship are high quality (high LMX) partnerships,
characterized by mutual trust, respect, and loyalty.” Beberapa hubungan
yang berkualitas tinggi (LMX tinggi)
kemitraan, ditandai dengan saling percaya, menghormati, dan loyalitas. Hubungan
yang berkualitas tinggi antara kepala sekolah dan guru ditandai dengan saling
percaya antara guru dan kepala sekolah. Pendapat ini juga diperkuat oleh konsep
yang dikemukakan oleh Ivancevich, et al.
Ivancevich, et al., (2008:418) menyatakan bahwa
dalam, “leader member relation refer to
the degree of confidence, trust and respect the follower, this is the most
important factor”. Hubungan pengikut bawahan dalam hal ini guru mengarahkan
sedikit banyak kepercayaan yang kuat dan rasa hormat anggota/guru yang
merupakan faktor penting dalam LMX.
PENUTUP
Kesimpulan: (1) LMX
berpengaruh langsung positif
terhadap komitmen organisasi. Artinya LMX yang harmonis mengakibatkan
peningkatan komitmen organisasi
guru Negeri di Kota Bima NTB, (2) kepercayaan berpengaruh langsung positif terhadap komitmen
organisasi. Artinya,
kepercayaan yang tinggi mengakibatkan
peningkatan komitmen organisasi
guru di SMAN Negeri di Kota Bima NTB, (3) LMX berpengaruh langsung positif terhadap kepercayaan. Artinya, LMX
yang kondusif mengakibatkan peningkatan kepercayaan guru di SMAN Negeri di Kota Bima NTB..
Saran, pertama, saran
untuk untuk
kepala sekolah sebagai pemimpin diharapkan dapat memperbaiki LMX dengan cara-cara
sebagai berikut: memperbaiki LMX agar berdampak terhadap peningkatan
komitmen organisasi adalah dengan cara: (1) Memiliki
peran pada tugas yang diberikan (kontribusi); (2) kesetiaan; (3) keinginan
untuk saling mendukung (afeksi); (4) respek terhadap profesi..
Kedua, saran untuk guru
terkait
dengan kepercayaan agar dapat meningkatkan komitmen organisasi. Guru hendaknya (1) keyakinan
terhadap integritas, (2) pengharapan positif, (3) kemauan untuk rentan pada
perintah, (4) keterbukaan.
DAFTAR RUJUKAN
Achua,
Christopher, and Robert N.Lussier. Effective Leadership. Canada:
South-Western, 2013.
Colquitt, Jason A. et al., Organizational
Behavior: Improving Performance and
Commitment in the Workplace. New York: McGraw Hill, 2009.
Daft, Ricahrd L. New Era Management. Canada: Nelson Education Ltd, 2010.
Dundon, Tony
and Derek Rollinson. Understanding Employment Relations. London: McGraw Hill, 2011.
George, Jennifer and Gareth R. Jones. Understanding and Managing Organizational Behavior. New York:
Prenticve Hall, 2010.
Gibson, James L. et al., Organization: Behavior, Structure, Processes. New York: McGraw-Hill, 2009.
Gibson, James L. et al., Organizations:
Behavior, Structure, Processes. New York: McGraw Hill, 2009.
Greenberg, Jerald. Managing
Behavior in Organizations: Fifth
Edition. New Jersey: Pearson, 2010.
Ivancevich,
Kanopaske, and Matteson. Organizational Behavior
and Management. Singapore: McGraw-Hill,
2008.
Janasz,
Suzanne C. De et al., Interpersonal
Skills in Organizations. Singapore:
McGraw Hill, 2009.
Jex, Steve M. Organizational Psychology. Canada:
John Wiley& Sons, Inc, 2002.
Kreitner, Robert
and Angelo Kinicki. Organizational Behavior. New York: McGraw Hill, 2010.
Luthans, Fred. Organizational Behavior An Evidance-Based Approach. New York:
McGraw-Hill, 2011.
Massick, David
M. et.al., The Psychology of Leadership New Perspectives and Research. London:
Mahwah, New Jersey, 2005.
Miner, John B. Organizational
Behavior. New York: M.E.Sharpe,2005.
Mullins, Laurie
J. Management And Organizational Behavior Eight
Edition.
London: Pearson Education Prentice Hall, 2007.
Robbins,
Stephen
P. and Mary Coulter. Management. New Jersey: Pearson
Prentice Hall, 2007.
Robbins, Stephen P. Perilaku Organisasi: Edisi ke 10. Terjemahan Klaten: PT.Indeks: 2006.
Schermerhorn, John R.
Jr, Introducing to Management. John
Wiley & Sons, Inc , 2005.
Slocum, Jhon W. Jr. dan Don Hellriegel,
Principles of Organizational Behavior. South Western, Canada: Nelson EducationLtd, 2008.
Yukl, Gary.
Leadership in Organizations, 7th
Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc, 2010.
0 komentar :
Posting Komentar