Belajar - Praktekkan - Berbagi

Kamis, 24 November 2016

Keluarga dalam Negara



“Ketahanan Keluarga sebagai Basis dalam Pengokohan
Ketahanan Nasional”
oleh: Nurul Khasyiah M.Pd




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
            Semakin derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai bentuk dan ekspresi budaya global merupakan faktor yang mengakibatkan pengikisan watak bangsa yang berlangsung semakin lebih cepat dan luas. Akibat lebih lanjut, krisis watak bangsa menimbulkan kerusakan akhlak dan identitas diri dalam kehidupan sosial dan kultural bangsa, sehingga dapat mengancam integritas dan ketahanan bangsa secara keseluruhan.
            Keragaman budaya dan multi-kulturalisme di tanah air kita dapat terancam jika masing-masing etnis dan kelompok budaya hanya mengunggulkan budaya masing-masing, dan pada saat yang sama kurang atau tidak menghargai budaya lainnya. Karena itu, penghargaan pada keragaman budaya mesti tidak dipandang telah selesai atau dibiarkan berkembang dengan sendirinya; sebaliknya justru harus diperkuat terus menerus melalui berbagai jalur interaksi sosial dan pendidikan pada berbagai levelnya.
            Jika ditelaah lebih mendalam, krisis dalam watak dan karakter bangsa itu terkait banyak dengan semakin tiadanya harmoni dalam keluarga. Banyak keluarga mengalami disorientasi bukan hanya karena menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga karena serbuan globalisasi nilai-nilai dan gaya hidup yang tidak selalu postif dengan nilai-nilai dan norma-norma agama, sosial-budaya nasional dan lokal Indonesia. Sebagai contoh saja, gaya hidup hedonistik dan materialistik; dan permissif sebagaimana banyak ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada berbagai saluran TV Indonesia, hanya mempercepat disorientasi dalam sebuah keluarga dan rumahtangga.
            Akibatnya, tidak heran kalau banyak anak-anak yang keluar dari keluarga dan rumahtangga hampir tidak memiliki watak dan karakter. Banyak di antara anak-anak yang alim dan bajik di rumah, tetapi nakal di sekolah, terlibat dalam tawuran, penggunaan obat-obat terlarang, dan bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya, seperti perampokan bis kota dan sebagainya. Inilah anak-anak yang bukan hanya tidak memiliki kebajikan (righteousness) dan inner beauty dalam karakternya, tetapi malah mengalami kepribadian terbelah (split personality).
            Dalam konteks kekinian tersebut kita harus mampu membangun sinergi yang utuh antara basis keluarga sebagai skala terkecil dalam sebuah masyarakat yang akan membangun ketahanan nasional dalam skala nasional dan dunia yang mampu memperkuat bangsa Indonesia yang memiliki jati diri dan ketahanan; berkepribadian dan berkarakter yang tangguh; berpegang teguh pada nilai-nilai demokratis; memiliki kesalehan individual kesalehan sosial sekaligus; menghargai keragaman dan kehidupan multikultural; serta memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi.

1.2.Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah meliputi:
1. Bagaimana peran keluarga?
2. Bagaimana peran ketahanan nasional?
3.Bagaimana peran keluarga sebagai basis dalam pengokohan ketahanan nasional? 

1.3.Tujuan Penulisan
Sebagai sarana berbagai ilmu guna menciptakan persepsi yang satu akan esesnsi keluarga sebagai basis dalam pengokohan ketahahan nasional.

1.4.Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan karya tulis ini adalah dapat mengetahui bagaimana cara menghadirkan sinergi peran keluarga sebagai basis dalam pengokohan ketahanan nasional untuk para ibu-ibu rumah tangga secara khusus, dan pembaca secara umum.


BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Peran Keluarga
            Keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Kenapa demikian besar perhatian Islam? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata pertama untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
            Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
            Bila pondasi ini kuat, lurus agama dan akhlak anggotanya maka akan kuat pula masyarakat dan akan terwujud keamanan yang didambakan. Sebaliknya, bila tercerai berai ikatan keluarga dan kerusakan meracuni anggota-anggotanya maka dampaknya terlihat pada masyarakat, bagaimana kegoncangan melanda dan rapuhnya kekuatan sehingga tidak diperoleh rasa aman. Rasa aman ini lebih mereka butuhkan di atas kebutuhan makanan. Karena itu Islam memperhatikan hal ini dengan cara membina manusia sebagai bagian dari masyarakat di atas akidah yang lurus disertai akhlak yang mulia. Bersamaan dengan itu, pembinaan individu-individu manusia tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa ada wadah dan lingkungan yang baik. Dari sudut inilah kita dapat melihat nilai sebuah keluarga.
            Dengan demikian pendidikan keluarga memiliki peranan yang sangat penting terhadap pendidikan anak, antara lain:
            a.    Pengalaman Pertama Masa Kanak-kanak
            Lembaga pendidikan keluarga memberikan pengalaman pertama yang         merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak, sebab dari          sinilah keseimbangan jiwa di dalam perkembangan individu selanjutnya             ditentukan.
            b.    Menjamin Kehidupan Emosional Anak
            Kehidupan emosional merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam   membentuk pribadi seseorang, karena adanya kelainan-kelainan dalam          perkembangan pendidikan individu oleh kurang berkembangnya             kehidupan emosional secara wajar.
            c.    Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
            Dalam sebuah keluarga perilaku orang tua menjadi teladan oleh seorang      anak dan anak suka meniru perbuatan orang tuanya. “Rasa cinta, rasa      bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya             sangat bermanfaat untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa   pendidikan budi pekerti, terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat       yang kuat dan murni, sehingga tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya             menyamainya”
            d.   Memberikan Dasar Pendidikan Sosial
            Yaitu dengan menumbuhkan benih-benih kesadaran sosial lewat tolong-     menolong dalam kehidupan keluarga, gotong royong, menjaga ketertiban,            kedamaian dan lain-lain.
            e.    Peletakan Dasar-dasar Keagamaan
            Mengenalkan ilmu-ilmu agama, mengajari mengaji al-quran dan lain-lain.    Hal ini sangat memupuk keagamaan anak.        
            Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama pada hakekatnya merupakan wadah yang tepat bagi seseorang untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian yang kemudian ditambah dan disempurnakan oleh sekolah. Dalam keluargalah, yang seyogyanya dapat membiasakan mendidik anak-anaknya dengan ajaran-ajaran agama dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini yang akan bersinergi untuk membangun peradaban dan menjaga keutuhan bangsanya dari segala ancaman.

II.2. Peran Ketahanan Nasional
            Terbentuknya negara Indonesia dilatar belakangi oleh perjuangan seluruh bangsa. Sudah sejak lama Indonesia menjadi incaran banyak negara atau bangsa lain, karena potensinya yang besar dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang banyak. Kenyataannya ancaman datang tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Terbukti, setelah perjuangan bangsa tercapai dengan terbentuknya NKRI, ancaman dan gangguan dari dalam juga timbul, dari yang bersifat fisik sampai yang ideologis. Meski demikian, bangsa Indonesia memegang satu komitmen bersama untuk tegaknya negara kesatuan Indonesia. Dorongan kesadaran bangsa yang dipengaruhi kondisi dan letak geografis dengan dihadapkan pada lingkungan dunia yang serba berubah akan memberikan motivasi dalam menciptakan suasana damai. Bangsa Indonesia telah berusaha menghadapi semua ini dengan semangat persatuan dan keutuhan. Kondisi dinamis tersebut disebut dengan ketahanan nasional.
            Ketahanan nasional merupakan suatu ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia serta merupakan cara terbaik yang perlu di implementasikan secara berlanjut dalam rangka membina kondisi kehidupan nasional yang ingin diwujudkan, wawasan nusantara dan ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang didasari oleh Pancasila sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan konstisional dalam paradigma pembangunan nasional. Oleh karena itu, Ketahanan Nasional adalah kondisi hidup dan kehidupan  nasional yang harus senantiasa diwujudkan dan dibina secara terus-menerus serta sinergik. Hal demikian itu, dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara  dengan modal dasar keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan kekuatan nasional. Proses berkelanjutan itu harus selalu didasari oleh pemikiran geopolitik dan geostrategi sebagai sebuah konsepsi yang dirancang  dan dirumuskan dengan memperhatikan konstelasi yang ada disekitar Indonesia.
            Ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis bangsa Indnonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Ketahanan nasional berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasional.
            Dalam hal ini, seluruh elemen Bangsa seperti pemerintah, masyarakat, generasi tua, wanita, pemuda dan sebagainya, memiliki peranan vital di masing-masing bidangnya. Namun, pemuda yang memiliki batasan produktif dalam berkarya, memiliki posisi yang penting. Dalam konstruksi pemuda, posisi generasi muda lebih sebagai subjek dibanding sebagai obyek dan pada tingkat tertentu berperan secara lebih aktif, produktif dalam membangun jati diri secara bertanggung jawab dan efektif. Kemampuan menyelesaikan problem obyektif yang ada diharapkan mampu mengantarkan pemuda untuk tampil menghadapi tantangan yang lebih luas lagi.
            Potensi yang dimiliki oleh generasi muda diharapkan mampu meningkatkan peran dan memberikan kontribusi dalam mengatasi persoalan Bangsa. Berbagai gejala sosial dengan mudah dapat dilihat, mulai dari rapuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, rendahnya sensitivitas sosial, memudarnya etika, lemahnya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan, kedudukan dan jabatan bukan lagi sebagai amanah penederitaan rakyat, tak ada lagi jaminan rasa aman, mahalnya menegakan keadilan dan masih banyak lagi problem sosial yang kita harus selesaikan, dan kesemua persiapan yang akan dimiliki oleh seorang pemuda berasal dari sebuah keluarga.     

II.3. Peran Keluarga sebagai basis dalam ketahana nasional
            Perubahan sosial, budaya dan politik dari masyarakat senantiasa beranjak dari perubahan individu dan keluarga. Tak bisa disangsikan lagi, bahwa keluarga merupakan laboratorium bagi sebuah peradaban masa depan bangsa yang dicita-citakan.Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada pembinaan keluarga (usrah). Keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan karena itu keadaan keluarga sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri. Bangsa terbaik (khayr ummah) yang merupakan  ummah wahidah (bangsa yang satu) dan ummah wasath (bangsa yang moderat), sebagaimana dicita-citakan Islam hanya dapat terbentuk melalui keluarga yang dibangun dan dikembangkan atas dasar mawaddah wa rahmah.
            Lingkungan keluarga mempunyai peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan pendidikan, karena perkembangan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya. Lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif dan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan sikap, akhlak dan perasaan agama. Dapat dipahami bahwa penerapan pendidikan Islam secara baik pada lingkungan keluarga, memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian muslim.
            Pada era reformasi dewasa ini permasalahan HAM, demokrasi dan lingkungan hidup sangat mempengaruhi upaya bangsa Indonesia dalam membina dan mengembangkan ketahanan nasional. Permasalahan tersebut merupakan suatu isu global sehingga semua negara termasuk negara Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari persoalan tersebut. Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu Bangsa yang terdiri atas ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan Nasional dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup Bangsa dan Negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan Nasional:
            1. Ancaman di dalam negeri, misalnya pemeberontakan dan subversi yang berasal atau terbentuk dari masyarakat Indonesia.
            2. Ancaman dari luar negeri, seperti infiltrasi, subversi dan intervensi dari   kekuatan kolonialisme dan imperialisme serta invasi dari darat, udara dan           laut oleh musuh dari luar negeri.
            Dalam hal ini pemuda dituntut untuk selalu siaga dan terus mengembangkan diri guna menjawab tantangan Bangsa dan era globalisasi, demi terciptanya kehidupan yang lebih baik untuk Indonesia di masa yang akan datang. Banyaknya persoalan yang membutuhkan sumbangsih pemuda, terlebih pada persoalan sosial-politik, menjadi pemuda memiliki peran penting bagi suatu bangsa. Pemuda yang hebat dan potensial menjadi investasi besar bagi ketahanan nasional suatu bangsa.
            Dari keluarga inilah, para pemuda-pemuda yang menjadi agent of change dihasilkan melalui proses pendidikan yang menyeluruh dan bersinergis.. Dalam konteks keindonesiaan, pendidikan dalam keluarga menjadi semakin terasakan urgensinya, ketika kita mendapatkan kenyataan buruknya kondisi kehidupan saat ini. Masih tingginya tingkat korupsi, banyaknya penyalahgunaan wewenang dan jabatan, banyaknya penyimpangan moral, menandakan belum bagusnya kualitas pendidikan.
            Pemuda-pemuda yang dihasilkan pada sebuah pendidikan keluarga sebagai agent of change, harus mengambil peran dalam memajukan bangsa dan meningkatkan ketahanan nasional. Banyak hal bisa dilakukan sebagai wujud kontribusi. Salah satu hal pokok yang terkait dengan hal itu adalah tentang pandangan politik. Politik sangat mempengaruhi berjalannya kebijakan-kebijakan publik. Dalam lingkup yang lebih kecil, bagaimana supaya para pemuda menjadi penggerak perubahan ke arah yang lebih baik bagi sesama pemuda lainnya.  Pandangan atau pemikiran seorang pemuda itu memiliki peran yang sangat penting dalam proses kontribusi. Ketika seorang pemuda ingin bertindak dan beraktivitas pasti akan mempertimbangkan segala kemungkinannya dari apa yang dilakukan. Dengan pandangan yang luas dan pemikiran yang positif dari hasil proses belajar menjadikan para pemuda itu cerdas dalam bertindak dan beraktivitas sehingga apa saja yang dilakukan harus bisa memberikan manfaat bagi banyak orang terutama bagi bangsanya atau minimal bagi dirinya sendiri dan itu berasal dari pendidikan yang ia peroleh dari keluarga.
            Pemuda atau kaum muda yang menjadi agent of change ini juga banyak yang turun secara langsung ke dalam lingkungan masyarakat. Mereka mempelajari, mendalami dan berusaha memperjuangkan nasib rakyat yang tertindas. Hal ini juga berkaitan erat dengan daya tahan bangsa karena sudah mencakup banyak elemen sosial atau kemasyarakatan. Seperti dalam buku karya Erlangga Masdian, Dwi Agus Susilo dan Suratman dijelaskan bahwa konsepsi Ketahanan Nasional merupakan suatu konsep di dalam pengaturan dan penyelenggaraan dan keamanan yang mencakup segenap kehidupan bangsa yang dinamakan Astagatra, yang meliputi aspek alamiah (Trigatra) dan aspek sosial (Pancagatra). Trigatra meliputi posisi dan lokasi geografi negara, keadaan dan kekayaan alam, dan keadaan dan kemampuan penduduk. Pancagatra merupakan aspek sosial kemasyarakatan terdiri dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan (Ipoleksosbudhankam). Antara gatra yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang bersifat timbal balik dengan hubungan yang erat yang saling interdependensi, demikian juga antara Trigatra dan Pancagatra. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segenap aspek tersebut merupakan suatu keseluruhan yang serasi.
            Peran pemuda dalam ketahanan nasional ini sangat penting. Pemuda sebagai bagian dari potensi pembangunan harus berdaya agar mampu berkiprah dalam menghadapi tantangan global. Keberdayaan pemuda sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya pemuda dilakukan melalui dorongan, bimbingan, kesempatan, pendidikan, pelatihan dan panduan sehingga mempunyai kesempatan untuk tumbuh sehat, dinamis, maju, mandiri, berjiwa wirausaha, tangguh, unggul, berdaya saing, demokratis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
            Selain itu sebagai generasi harapan bangsa, pemuda itu diharapkan mampu memahami konsep Wawasan Nusantara. Dalam konteks Indonesia Wawasan Nusantara merupakan wawasan nasional Indonesia (Indonesia national outlook) yang dikembangkan dan dirumuskan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasional dengan mempertimbangkan pandangan geopolitik Indonesia, sejarah perjuangan dan kondisi sosial budaya bangsa. Bagi Indonesia, Wawasan Nusantara merupakan pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menuju perwujudan Indonesia sebagai satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan sosial budaya, dan satu kesatuan pertahanan keamanan. Pemuda, sebagai bagian dari bangsa, harus mampu memahami wawasan ini, sehingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, peran pemuda tetap sebagai garda depan pembangunan. Dengan memahami konsep tersebut maka pemuda harapan bangsa itu dapat mengetahui lebih mendalam peran pemuda dalam ketahanan nasional. Bahwa untuk memajukan bangsa itu butuh pemuda-pemuda yang berkualitas dan memahami konsep-konsep dalam suatu bangsa sehingga akan lebih menjiwai dan menjalankan perannya dengan baik.
            Untuk dapat menghasilkan para pemuda-pemuda yang menjadi agent of change maka pendidikan yang seyogyanya hadir dalam sebuah pendidikan keluarga adalah pendidikan keimanan yang merupakan pondasi yang kokoh bagi seluruh bagian-bagian pendidikan. Pendidikan keimanan ini yang akan membentuk kecerdasan spiritual. Komitmen iman yang tertanam pada diri setiap anggota keluarga terutama seorang anak yang akan menjadi seorang pemuda kelak, akan memungkinkannya mengembangkan potensi fitrah dan beragam bakat. Yang dimaksud dengan keimanan adalah keyakinan akan keberadaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Melihat perbuatan manusia, Tuhan Yang Maha Membalas perbuatan manusia, Tuhan Yang Maha Adil dalam memberikan hukuman dan pembalasan, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala apa yang tampak dan tersembunyi. Inilah hakikat iman yang paling fundamental. Setiap orang merasa dirinya berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah SWT.
            Nilai-nilai keimanan harus dijadikan perhatian utama dalam membentuk imunitas keluarga dalam menghadapi arus globalisasi. Penanaman nilai-nilai keimanan dalam keluarga merupakan pengamalan Pancasila khususnya sila pertama. Apabila iman sudah tertanam dengan kuat, akan melahirkan pula kepatuhan manusia terhadap hukum dan aturan yang datang dari Allah SWT. Ketika sebuah keluarga sudah mampu menghadirkan konsep keimanan yang baik, maka keteladanan dan kebaikan atas dasar iman akan menjadi penggerak seorang ayah dan ibu untuk mampu membimbing anak-anaknya menjadi seorang pemuda yang mampu melakukan perubahan-perubahan untuk kemanfaatan bersama.
            Tidak mungkin seorang anak yang tidak dibekali tentang konsep keimanan yang baik, mampu menjadi anak ataupun pemuda yang berani, jujur, ataupun lantang menyerukan sebuah kedzaliman yang dilihatnya, melainkan kesemuannya itu adalah hasil dari sebuah pendidikan keluarga yang menghadirkan konsep iman dalam rutinitas pendidikan kepada anaknya sehari-hari.
            Ayah dan, Ibu sebagai penggerak jiwa anank-anaknya selalu mampu mengayomi dan mengarahkan anak-anaknya pada sebuah pola kesholihan yang mampu menjadi magnet hingga anak-anaknya patuh untuk merealisasikan ajaran-ajaran yang diberikan ayah dan ibunya dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, jika kelak mereka menjadi pemuda maka mereka akan menjadi pemuda-pemuda tangguh yang mampu meneriakan gaung keberanian untuk mampu mengatasi persoalan bangsa dan mampu menjaga ketahanan nasional bangsanya.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan 
            Dari paparan tersebut dapat saya  ambil kesimpulan bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama yang merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan selanjutnya, keteladanan orang tua dalam tindakan sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak, membentuk anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuh kembangkan jiwa nasionalisme yang akan mampu menjaga bangsa dan masyarakat dari segala ancaman ataupun gangguan yang akan menghancurkan ketahanan nasional Bangsa Indonesia.
            Pendidikan yang lahir dari keluarga yang menanamkan konsep pendidikan keimanan yang kuat akan melahirkan para pemuda yang bergelar agent of change yang memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah proses ketahanan nasional. Dengan pemahaman pada konsep-konsep dan semangat yang tinggi dalam setiap pejuangan yang diberikan oleh sebuah keluarga baik secara nyata maupun dalam contoh keteladanan, pemuda merupakan agent of change bagi suatu bangsa akan mampu membawa banyak perubahan. Pembawaan pemuda yang berpikir kritis dan jauh memandang ke masa depan menjadi modal dalam menjalankan kontribusinya bagi kemajuan suatu bangsa demi terwujudnya ketahanan nasional.






DAFTAR PUSTAKA
Amal, Ichlasul dan Armaidy Armawi. 1998. Regionalisme, Nasionalisme dan Ketahanan Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Amin, Zainul Ittihad.2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Azra, Azyumardi, 2003 (cetakan 2, 2006), Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi, Jakarta: Penerbit Kompas.
Masdiana, Erlangga, Agus Susilo dan Suratman. 2008. Peran Generasi Muda dalam Ketahanan Nasional. Jakarta: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
Oesman, Oetojo dan Alfian.1993. Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang Kehidupan Masyarakat, Berbangsa dan Bernegara. Jakarta : BP-7 Pusat.
Ruwiyanto, Wahyudi.1997. Manajemen Sistem Pendidikan Nasional Dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Nasional. Jakarta : Balai Pustaka.
Tim Dosen UPT Bidang Studi Universitas Padjajaran. 2010. Mata kuliah Kewarganegaraan. Bandung : UPT Bidang Studi.
Usman, Wan, dkk. 2003. Daya Tahan Bangsa. Jakarta: Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia.

0 komentar :

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

Blogroll

About

Copyright © Nurul Khasyiah | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com