“Ketahanan Keluarga sebagai Basis
dalam Pengokohan
Ketahanan Nasional”
oleh: Nurul Khasyiah M.Pd
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Semakin derasnya arus globalisasi
yang membawa berbagai bentuk dan ekspresi budaya global merupakan faktor yang
mengakibatkan pengikisan watak bangsa yang berlangsung semakin lebih cepat dan
luas. Akibat lebih lanjut, krisis watak bangsa menimbulkan kerusakan akhlak dan
identitas diri dalam kehidupan sosial dan kultural bangsa, sehingga dapat
mengancam integritas dan ketahanan bangsa secara keseluruhan.
Keragaman budaya dan
multi-kulturalisme di tanah air kita dapat terancam jika masing-masing etnis
dan kelompok budaya hanya mengunggulkan budaya masing-masing, dan pada saat
yang sama kurang atau tidak menghargai budaya lainnya. Karena itu, penghargaan
pada keragaman budaya mesti tidak dipandang telah selesai atau dibiarkan
berkembang dengan sendirinya; sebaliknya justru harus diperkuat terus menerus melalui
berbagai jalur interaksi sosial dan pendidikan pada berbagai levelnya.
Jika ditelaah lebih mendalam, krisis
dalam watak dan karakter bangsa itu terkait banyak dengan semakin tiadanya harmoni
dalam keluarga. Banyak keluarga mengalami disorientasi bukan hanya karena
menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga karena serbuan globalisasi nilai-nilai
dan gaya hidup yang tidak selalu postif dengan nilai-nilai dan norma-norma
agama, sosial-budaya nasional dan lokal Indonesia. Sebagai contoh saja, gaya
hidup hedonistik dan materialistik; dan permissif sebagaimana banyak
ditayangkan dalam telenovela dan sinetron pada berbagai saluran TV Indonesia,
hanya mempercepat disorientasi dalam sebuah keluarga dan rumahtangga.
Akibatnya, tidak heran kalau banyak
anak-anak yang keluar dari keluarga dan rumahtangga hampir tidak memiliki watak
dan karakter. Banyak di antara anak-anak yang alim dan bajik di rumah, tetapi
nakal di sekolah, terlibat dalam tawuran, penggunaan obat-obat terlarang, dan
bentuk-bentuk tindakan kriminal lainnya, seperti perampokan bis kota dan
sebagainya. Inilah anak-anak yang bukan hanya tidak memiliki kebajikan
(righteousness) dan inner beauty dalam karakternya, tetapi malah mengalami
kepribadian terbelah (split personality).
Dalam konteks kekinian tersebut kita
harus mampu membangun sinergi yang utuh antara basis keluarga sebagai skala
terkecil dalam sebuah masyarakat yang akan membangun ketahanan nasional dalam
skala nasional dan dunia yang mampu memperkuat bangsa Indonesia yang memiliki
jati diri dan ketahanan; berkepribadian dan berkarakter yang tangguh; berpegang
teguh pada nilai-nilai demokratis; memiliki kesalehan individual kesalehan sosial
sekaligus; menghargai keragaman dan kehidupan multikultural; serta memiliki
rasa cinta tanah air yang tinggi.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas
maka rumusan masalah meliputi:
1.
Bagaimana peran keluarga?
2.
Bagaimana peran ketahanan nasional?
3.Bagaimana
peran keluarga sebagai basis dalam pengokohan ketahanan nasional?
1.3.Tujuan Penulisan
Sebagai sarana berbagai ilmu guna menciptakan persepsi yang satu akan esesnsi
keluarga sebagai basis dalam pengokohan ketahahan nasional.
1.4.Manfaat Penulisan
Manfaat
penulisan karya tulis ini adalah dapat mengetahui bagaimana cara menghadirkan
sinergi peran keluarga sebagai basis dalam pengokohan ketahanan nasional untuk
para ibu-ibu rumah tangga secara khusus, dan pembaca secara umum.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Peran Keluarga
Keluarga dalam pandangan Islam
memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap
kehidupan keluarga dengan meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara
kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Kenapa demikian besar
perhatian Islam? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata
pertama untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman
yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan
kalimat Allah di muka bumi.
Lingkungan keluarga merupakan
lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak
pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang
utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga,
sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam
keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak
dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat
anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga
yang lain.
Bila pondasi ini kuat, lurus agama
dan akhlak anggotanya maka akan kuat pula masyarakat dan akan terwujud keamanan
yang didambakan. Sebaliknya, bila tercerai berai ikatan keluarga dan kerusakan
meracuni anggota-anggotanya maka dampaknya terlihat pada masyarakat, bagaimana
kegoncangan melanda dan rapuhnya kekuatan sehingga tidak diperoleh rasa aman. Rasa
aman ini lebih mereka butuhkan di atas kebutuhan makanan. Karena itu Islam
memperhatikan hal ini dengan cara membina manusia sebagai bagian dari
masyarakat di atas akidah yang lurus disertai akhlak yang mulia. Bersamaan
dengan itu, pembinaan individu-individu manusia tidak mungkin dapat terlaksana
dengan baik tanpa ada wadah dan lingkungan yang baik. Dari sudut inilah kita
dapat melihat nilai sebuah keluarga.
Dengan demikian pendidikan keluarga
memiliki peranan yang sangat penting terhadap pendidikan anak, antara lain:
a.
Pengalaman Pertama Masa Kanak-kanak
Lembaga pendidikan keluarga
memberikan pengalaman pertama yang merupakan
faktor penting dalam perkembangan pribadi anak, sebab dari sinilah keseimbangan jiwa di dalam
perkembangan individu selanjutnya ditentukan.
b.
Menjamin Kehidupan Emosional Anak
Kehidupan emosional merupakan salah
satu faktor yang terpenting dalam membentuk
pribadi seseorang, karena adanya kelainan-kelainan dalam perkembangan pendidikan individu oleh
kurang berkembangnya kehidupan
emosional secara wajar.
c.
Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
Dalam sebuah keluarga perilaku orang
tua menjadi teladan oleh seorang anak
dan anak suka meniru perbuatan orang tuanya. “Rasa cinta, rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan
jiwa yang pada umumnya sangat
bermanfaat untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti, terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam
sifat yang kuat dan murni, sehingga
tak dapat pusat-pusat pendidikan lainnya menyamainya”
d.
Memberikan Dasar Pendidikan Sosial
Yaitu dengan menumbuhkan benih-benih
kesadaran sosial lewat tolong- menolong
dalam kehidupan keluarga, gotong royong, menjaga ketertiban, kedamaian dan lain-lain.
e.
Peletakan Dasar-dasar Keagamaan
Mengenalkan ilmu-ilmu agama,
mengajari mengaji al-quran dan lain-lain. Hal
ini sangat memupuk keagamaan anak.
Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama pada hakekatnya
merupakan wadah yang tepat bagi seseorang untuk memperoleh pembinaan mental dan
pembentukan kepribadian yang kemudian ditambah dan disempurnakan oleh sekolah.
Dalam keluargalah, yang seyogyanya dapat membiasakan mendidik anak-anaknya
dengan ajaran-ajaran agama dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini yang
akan bersinergi untuk membangun peradaban dan menjaga keutuhan bangsanya dari
segala ancaman.
II.2. Peran Ketahanan Nasional
Terbentuknya negara Indonesia
dilatar belakangi oleh perjuangan seluruh bangsa. Sudah sejak lama Indonesia
menjadi incaran banyak negara atau bangsa lain, karena potensinya yang besar
dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang banyak.
Kenyataannya ancaman datang tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam.
Terbukti, setelah perjuangan bangsa tercapai dengan terbentuknya NKRI, ancaman
dan gangguan dari dalam juga timbul, dari yang bersifat fisik sampai yang
ideologis. Meski demikian, bangsa Indonesia memegang satu komitmen bersama
untuk tegaknya negara kesatuan Indonesia. Dorongan kesadaran bangsa yang
dipengaruhi kondisi dan letak geografis dengan dihadapkan pada lingkungan dunia
yang serba berubah akan memberikan motivasi dalam menciptakan suasana damai. Bangsa
Indonesia telah berusaha menghadapi semua ini dengan semangat persatuan dan
keutuhan. Kondisi dinamis tersebut disebut dengan ketahanan nasional.
Ketahanan nasional merupakan suatu
ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia serta merupakan
cara terbaik yang perlu di implementasikan secara berlanjut dalam rangka
membina kondisi kehidupan nasional yang ingin diwujudkan, wawasan nusantara dan
ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang didasari oleh
Pancasila sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan konstisional dalam
paradigma pembangunan nasional. Oleh karena itu, Ketahanan Nasional adalah
kondisi hidup dan kehidupan nasional
yang harus senantiasa diwujudkan dan dibina secara terus-menerus serta
sinergik. Hal demikian itu, dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri
pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara dengan modal dasar keuletan dan ketangguhan
yang mampu mengembangkan kekuatan nasional. Proses berkelanjutan itu harus
selalu didasari oleh pemikiran geopolitik dan geostrategi sebagai sebuah
konsepsi yang dirancang dan dirumuskan
dengan memperhatikan konstelasi yang ada disekitar Indonesia.
Ketahanan Nasional Indonesia adalah
kondisi dinamis bangsa Indnonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan
nasional yang terintegrasi. Ketahanan nasional berisi keuletan dan ketangguhan
yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam
menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik
yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk menjamin identitas,
integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mencapai
tujuan nasional.
Dalam hal ini, seluruh elemen Bangsa
seperti pemerintah, masyarakat, generasi tua, wanita, pemuda dan sebagainya,
memiliki peranan vital di masing-masing bidangnya. Namun, pemuda yang memiliki
batasan produktif dalam berkarya, memiliki posisi yang penting. Dalam
konstruksi pemuda, posisi generasi muda lebih sebagai subjek dibanding sebagai
obyek dan pada tingkat tertentu berperan secara lebih aktif, produktif dalam
membangun jati diri secara bertanggung jawab dan efektif. Kemampuan
menyelesaikan problem obyektif yang ada diharapkan mampu mengantarkan pemuda
untuk tampil menghadapi tantangan yang lebih luas lagi.
Potensi yang dimiliki oleh generasi
muda diharapkan mampu meningkatkan peran dan memberikan kontribusi dalam
mengatasi persoalan Bangsa. Berbagai gejala sosial dengan mudah dapat dilihat,
mulai dari rapuhnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, rendahnya sensitivitas
sosial, memudarnya etika, lemahnya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan,
kedudukan dan jabatan bukan lagi sebagai amanah penederitaan rakyat, tak ada
lagi jaminan rasa aman, mahalnya menegakan keadilan dan masih banyak lagi
problem sosial yang kita harus selesaikan, dan kesemua persiapan yang akan
dimiliki oleh seorang pemuda berasal dari sebuah keluarga.
II.3.
Peran Keluarga sebagai basis dalam ketahana nasional
Perubahan
sosial, budaya dan politik dari masyarakat senantiasa beranjak dari perubahan
individu dan keluarga. Tak bisa disangsikan lagi, bahwa keluarga merupakan
laboratorium bagi sebuah peradaban masa depan bangsa yang dicita-citakan.Islam
memberikan perhatian yang sangat besar kepada pembinaan keluarga (usrah).
Keluarga merupakan basis dari ummah (bangsa); dan karena itu keadaan keluarga
sangat menentukan keadaan ummah itu sendiri. Bangsa terbaik (khayr ummah) yang
merupakan ummah wahidah (bangsa yang satu)
dan ummah wasath (bangsa yang moderat), sebagaimana dicita-citakan Islam hanya
dapat terbentuk melalui keluarga yang dibangun dan dikembangkan atas dasar mawaddah wa rahmah.
Lingkungan keluarga mempunyai
peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan pendidikan, karena
perkembangan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya.
Lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif dan pengaruh yang negatif
terhadap pertumbuhan dan perkembangan sikap, akhlak dan perasaan agama. Dapat
dipahami bahwa penerapan pendidikan Islam secara baik pada lingkungan keluarga,
memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian muslim.
Pada era reformasi dewasa ini
permasalahan HAM, demokrasi dan lingkungan hidup sangat mempengaruhi upaya
bangsa Indonesia dalam membina dan mengembangkan ketahanan nasional.
Permasalahan tersebut merupakan suatu isu global sehingga semua negara termasuk
negara Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari persoalan tersebut. Ketahanan
Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu Bangsa yang terdiri atas
ketangguhan serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan Nasional
dalam menghadapi segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan
gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak
langsung yang mengancam dan membahayakan integritas, identitas, kelangsungan
hidup Bangsa dan Negara serta perjuangan dalam mewujudkan tujuan perjuangan
Nasional:
1. Ancaman di dalam negeri, misalnya
pemeberontakan dan subversi yang berasal
atau terbentuk dari masyarakat Indonesia.
2. Ancaman dari luar negeri, seperti
infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan
kolonialisme dan imperialisme serta invasi dari darat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri.
Dalam hal ini pemuda dituntut untuk
selalu siaga dan terus mengembangkan diri guna menjawab tantangan Bangsa dan
era globalisasi, demi terciptanya kehidupan yang lebih baik untuk Indonesia di
masa yang akan datang. Banyaknya
persoalan yang membutuhkan sumbangsih pemuda, terlebih pada persoalan
sosial-politik, menjadi pemuda memiliki peran penting bagi suatu bangsa. Pemuda
yang hebat dan potensial menjadi investasi besar bagi ketahanan nasional suatu
bangsa.
Dari
keluarga inilah, para pemuda-pemuda yang menjadi agent of change dihasilkan
melalui proses pendidikan yang menyeluruh dan bersinergis.. Dalam konteks
keindonesiaan, pendidikan dalam keluarga menjadi semakin terasakan urgensinya,
ketika kita mendapatkan kenyataan buruknya kondisi kehidupan saat ini. Masih
tingginya tingkat korupsi, banyaknya penyalahgunaan wewenang dan jabatan,
banyaknya penyimpangan moral, menandakan belum bagusnya kualitas pendidikan.
Pemuda-pemuda yang dihasilkan pada
sebuah pendidikan keluarga sebagai agent of change, harus mengambil peran dalam
memajukan bangsa dan meningkatkan ketahanan nasional. Banyak hal bisa dilakukan
sebagai wujud kontribusi. Salah satu hal pokok yang terkait dengan hal itu
adalah tentang pandangan politik. Politik sangat mempengaruhi berjalannya
kebijakan-kebijakan publik. Dalam lingkup yang lebih kecil, bagaimana supaya
para pemuda menjadi penggerak perubahan ke arah yang lebih baik bagi sesama
pemuda lainnya. Pandangan atau pemikiran
seorang pemuda itu memiliki peran yang sangat penting dalam proses kontribusi.
Ketika seorang pemuda ingin bertindak dan beraktivitas pasti akan
mempertimbangkan segala kemungkinannya dari apa yang dilakukan. Dengan
pandangan yang luas dan pemikiran yang positif dari hasil proses belajar
menjadikan para pemuda itu cerdas dalam bertindak dan beraktivitas sehingga apa
saja yang dilakukan harus bisa memberikan manfaat bagi banyak orang terutama
bagi bangsanya atau minimal bagi dirinya sendiri dan itu berasal dari
pendidikan yang ia peroleh dari keluarga.
Pemuda atau kaum muda yang menjadi
agent of change ini juga banyak yang turun secara langsung ke dalam lingkungan
masyarakat. Mereka mempelajari, mendalami dan berusaha memperjuangkan nasib
rakyat yang tertindas. Hal ini juga berkaitan erat dengan daya tahan bangsa
karena sudah mencakup banyak elemen sosial atau kemasyarakatan. Seperti dalam
buku karya Erlangga Masdian, Dwi Agus Susilo dan Suratman dijelaskan bahwa
konsepsi Ketahanan Nasional merupakan suatu konsep di dalam pengaturan dan
penyelenggaraan dan keamanan yang mencakup segenap kehidupan bangsa yang
dinamakan Astagatra, yang meliputi aspek alamiah (Trigatra) dan aspek sosial
(Pancagatra). Trigatra meliputi posisi dan lokasi geografi negara, keadaan dan
kekayaan alam, dan keadaan dan kemampuan penduduk. Pancagatra merupakan aspek
sosial kemasyarakatan terdiri dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya
dan pertahanan keamanan (Ipoleksosbudhankam). Antara gatra yang satu dengan
yang lain terdapat hubungan yang bersifat timbal balik dengan hubungan yang
erat yang saling interdependensi, demikian juga antara Trigatra dan Pancagatra.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segenap aspek tersebut merupakan suatu
keseluruhan yang serasi.
Peran pemuda dalam ketahanan
nasional ini sangat penting. Pemuda sebagai bagian dari potensi pembangunan
harus berdaya agar mampu berkiprah dalam menghadapi tantangan global.
Keberdayaan pemuda sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya pemuda
dilakukan melalui dorongan, bimbingan, kesempatan, pendidikan, pelatihan dan
panduan sehingga mempunyai kesempatan untuk tumbuh sehat, dinamis, maju,
mandiri, berjiwa wirausaha, tangguh, unggul, berdaya saing, demokratis, dan
bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Selain itu sebagai generasi harapan
bangsa, pemuda itu diharapkan mampu memahami konsep Wawasan Nusantara. Dalam
konteks Indonesia Wawasan Nusantara merupakan wawasan nasional Indonesia (Indonesia national outlook) yang
dikembangkan dan dirumuskan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasional
dengan mempertimbangkan pandangan geopolitik Indonesia, sejarah perjuangan dan
kondisi sosial budaya bangsa. Bagi Indonesia, Wawasan Nusantara merupakan
pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
menuju perwujudan Indonesia sebagai satu kesatuan politik, satu kesatuan
ekonomi, satu kesatuan sosial budaya, dan satu kesatuan pertahanan keamanan.
Pemuda, sebagai bagian dari bangsa, harus mampu memahami wawasan ini, sehingga
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, peran pemuda tetap sebagai garda depan
pembangunan. Dengan memahami konsep tersebut maka pemuda harapan bangsa itu
dapat mengetahui lebih mendalam peran pemuda dalam ketahanan nasional. Bahwa
untuk memajukan bangsa itu butuh pemuda-pemuda yang berkualitas dan memahami
konsep-konsep dalam suatu bangsa sehingga akan lebih menjiwai dan menjalankan
perannya dengan baik.
Untuk dapat menghasilkan para
pemuda-pemuda yang menjadi agent of change maka pendidikan yang seyogyanya
hadir dalam sebuah pendidikan keluarga adalah pendidikan keimanan yang merupakan
pondasi yang kokoh bagi seluruh bagian-bagian pendidikan. Pendidikan keimanan
ini yang akan membentuk kecerdasan spiritual. Komitmen iman yang tertanam pada
diri setiap anggota keluarga terutama seorang anak yang akan menjadi seorang
pemuda kelak, akan memungkinkannya mengembangkan potensi fitrah dan beragam
bakat. Yang dimaksud dengan keimanan adalah keyakinan akan keberadaan Allah
sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Melihat perbuatan manusia, Tuhan
Yang Maha Membalas perbuatan manusia, Tuhan Yang Maha Adil dalam memberikan
hukuman dan pembalasan, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala apa yang tampak dan
tersembunyi. Inilah hakikat iman yang paling fundamental. Setiap orang merasa
dirinya berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Allah SWT.
Nilai-nilai keimanan harus dijadikan
perhatian utama dalam membentuk imunitas keluarga dalam menghadapi arus
globalisasi. Penanaman nilai-nilai keimanan dalam keluarga merupakan pengamalan
Pancasila khususnya sila pertama. Apabila iman sudah tertanam dengan kuat, akan
melahirkan pula kepatuhan manusia terhadap hukum dan aturan yang datang dari Allah
SWT. Ketika sebuah keluarga sudah mampu menghadirkan konsep keimanan yang baik,
maka keteladanan dan kebaikan atas dasar iman akan menjadi penggerak seorang
ayah dan ibu untuk mampu membimbing anak-anaknya menjadi seorang pemuda yang
mampu melakukan perubahan-perubahan untuk kemanfaatan bersama.
Tidak mungkin seorang anak yang
tidak dibekali tentang konsep keimanan yang baik, mampu menjadi anak ataupun
pemuda yang berani, jujur, ataupun lantang menyerukan sebuah kedzaliman yang
dilihatnya, melainkan kesemuannya itu adalah hasil dari sebuah pendidikan
keluarga yang menghadirkan konsep iman dalam rutinitas pendidikan kepada anaknya
sehari-hari.
Ayah dan, Ibu sebagai penggerak jiwa
anank-anaknya selalu mampu mengayomi dan mengarahkan anak-anaknya pada sebuah
pola kesholihan yang mampu menjadi magnet hingga anak-anaknya patuh untuk
merealisasikan ajaran-ajaran yang diberikan ayah dan ibunya dalam sebuah
keluarga. Oleh karena itu, jika kelak mereka menjadi pemuda maka mereka akan
menjadi pemuda-pemuda tangguh yang mampu meneriakan gaung keberanian untuk
mampu mengatasi persoalan bangsa dan mampu menjaga ketahanan nasional
bangsanya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari paparan tersebut dapat
saya ambil kesimpulan bahwa pendidikan
dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama yang merupakan
faktor yang sangat penting bagi perkembangan selanjutnya, keteladanan orang tua
dalam tindakan sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak,
membentuk anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang
dapat menumbuh kembangkan jiwa nasionalisme yang akan mampu menjaga bangsa dan
masyarakat dari segala ancaman ataupun gangguan yang akan menghancurkan
ketahanan nasional Bangsa Indonesia.
Pendidikan yang lahir dari keluarga
yang menanamkan konsep pendidikan keimanan yang kuat akan melahirkan para
pemuda yang bergelar agent of change yang memiliki peranan yang sangat penting
dalam sebuah proses ketahanan nasional. Dengan pemahaman pada konsep-konsep dan
semangat yang tinggi dalam setiap pejuangan yang diberikan oleh sebuah keluarga
baik secara nyata maupun dalam contoh keteladanan, pemuda merupakan agent of
change bagi suatu bangsa akan mampu membawa banyak perubahan. Pembawaan pemuda
yang berpikir kritis dan jauh memandang ke masa depan menjadi modal dalam
menjalankan kontribusinya bagi kemajuan suatu bangsa demi terwujudnya ketahanan
nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Amal, Ichlasul dan Armaidy Armawi. 1998. Regionalisme, Nasionalisme dan
Ketahanan Nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Amin, Zainul Ittihad.2008. Pendidikan
Kewarganegaraan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Azra, Azyumardi, 2003 (cetakan 2,
2006), Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan
Demokratisasi, Jakarta: Penerbit Kompas.
Masdiana, Erlangga, Agus Susilo dan Suratman. 2008. Peran Generasi Muda
dalam Ketahanan Nasional. Jakarta: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
Oesman, Oetojo dan Alfian.1993. Pancasila
Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang Kehidupan Masyarakat, Berbangsa dan
Bernegara. Jakarta : BP-7 Pusat.
Ruwiyanto, Wahyudi.1997. Manajemen
Sistem Pendidikan Nasional Dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Nasional.
Jakarta : Balai Pustaka.
Tim Dosen UPT Bidang Studi Universitas
Padjajaran. 2010. Mata kuliah Kewarganegaraan. Bandung : UPT Bidang
Studi.
Usman, Wan, dkk. 2003. Daya Tahan Bangsa. Jakarta: Program Studi
Pengkajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia.
0 komentar :
Posting Komentar